Jumat, 20 Maret 2009

Belajar Tauhid : Pelajaran 2

Belajar Tauhid dari Imam Ali


Al Hasan bin Abi Hasan al-Bashri meriwayatkan:

Seorang lelaki datang menghadap Amirul Mukminin- Imam Ali bin Abi Thalib- setelah Imam pulang dari perang Shiffin.

Lelaki itu bertanya kepada Imam Ali:” Wahai Amirul Mukminin, katakan kepadaku apakah perang antara anda dan orang-orang itu merupakan akibat dari Qadha dan Qadar Allah?”

Imam Ali menjawab, “Engkau tidak akan pernah naik bukit dan turun lembah tanpa Qadha dan Qadar Allah.”

Lelaki itu berkata,”Kalau demikian wahai Amirul Mukminin, aku anggap semua urusanku sebagai tanggung jawab Allah.”

“Mengapa?” tanya Imam Ali

“Jika Qadha dan Qadar Allah membawa kita berbuat sesuatu, maka apa artinya pahala untuk kita yang taat dan hukuman untuk kita yang durhaka?’ balas bertanya lelaki itu.

Imam Ali menjawab,”Apakah engkau mengira bahwa itu merupakan Qadha dan Qadar yang tersegel?” Janganlah berfikir demikian, itu adalah doktrin kaum musyrik, pendukung setan, kaum Majusi dan musuh Allah.

Allah SWT memberikan perintah sebagai suatu pilihan bebas (takhyir), dan memberikan larangan sebagai suatu peringatan (agar tidak berbuat sesuatu).

Allah memberikan tugas (takhlif) pada kita. Allah dipatuhi bukan karena terpaksa, dan tidak dipatuhi bukan karena tidak dapat ditundukkan.

DIA tidak menciptakan bumi, langit dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia…Itulah persangkaan orang-orang kafir, celakalah mereka itu, neraka adalah tempat bagi orang-orang kafir (QS.Shad:27).”

“Kalau begitu, bagaimana Qadha dan Qadar itu, wahai Amirul Mukminin?” tanya si lelaki.

“Itu adalah perintah untuk taat, larangan bersikap durhaka, ketetapan (bagi manusia) untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan untuk meninggalkan mereka yang durhaka kepada-Nya, janji pahala dan ancaman hukuman, inspirasi (yang DIA berikan kepada manusia) untuk berbuat baik dan rasa takut berbuat dosa (yang DIA munculkan dalam diri manusia). Itu semua adalah Qadha Allah berkenaan dengan tindakan kita dan Qadar-Nya berkaitan dengan amal kita. Adapun klaim-klaim lain, jangan hiraukan. Karena, kalau klaim-klaim lain itu diindahkan maka amalmu menjadi batal,” jawab Imam Ali.

Lelaki itu kemudian berkata,”Anda telah menghilangkan kekhawatiranku, wahai Amirul mukminin. Semoga Allah menghilangkan kekhawatiranmu.”

Setelah itu lelaki itu membaca syair:
Engkau adalah imam
Dengan menantimu aku mengharap ampunan Tuhan Maha Pengasih
Pada hari semua kembali kepada-Nya
Engkau telah jelaskan apa yang tidak jelas dalam agama kita
Semoga Tuhan menganugrahimu belimpah kebaikan.

Pelajaran :
» Makna keadilan Allah
» Larangan untuk menerima ajaran Jabariyah (determinisme) yang melimpahkan segala sesuatu kepada Allah – tanpa ada kehendak bebas dari manusia
» Allah suci dari melakukan perbuatan yang sia-sia.

Dikutip dari:
“Sejarah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as” / Syaikh Al Mufid
Cet.I - Penerbit Lentera 2005
Judul Asli Al Irsyad
Reff Khusus Riwayat diatas diambil Syaikh Al Mufid dari :
Uyun al-Akhbar ar-Ridha, Jilid 1, hal.138
Tuhaf al-‘Uqul, hal.349

Belajar Tauhid : Pelajaran 1

Belajar Tauhid Dari Imam Ali

Semasa Kalifah pertama memerintah, serombongan orang nasrani yang dipimpin oleh uskup dan ulama tingginya, datang ke Madinah, mereka hendak bertemu khalifah Rosulullah saw, masyarakat membawanya ke Abu Bakar, mereka mengajukan berbagai pertanyaan kepada Abu Bakar, Namun Abu Bakar membawa mereka kepada Imam Ali bin Abi Thalib agar mendapat jawaban yang benar.

Mereka Mengajukan pertanyan,”Dimanakah Allah?’

Imam Ali menyalakan api dan bertanya kepada mereka,”Manakah bagian depan (wajah) api ini?”

Cendikiawan nasrani menjawab,”Seluruh sisi api ini dapat dianggap sebagai wajahnya, tak ada depan tak ada belakang.”

Imam Ali berkata,”Tatkala bagi api – yang merupakan ciptaan Allah – tidak memiliki bagian khusus, maka Penciptanya sama sekali tidak memiliki keserupaan dengannya. Lebih dari sekedar depan dan belakang,........ barat dan timur semata-mata berasal dari Allah. Kemana saja engkau menghadapkan wajahmu itulah wajah Allah, dan tak satupun yang tersembunyi dari-NYA

Pelajaran :
Allah SWT tidak bertempat, Bila Allah bertempat tinggal, maka “tempat“ itu lebih besar dari Allah untuk menampung zat-NYA, jadi apalah arti Allah Maha Besar, bila “tempat” Allah lebih besar dari Allah?
Allah tidak bisa dan tidak boleh disifati (diserupakan) dengan makluk
Allah sudah ada, sebelum ada “tempat”

Kamis, 19 Maret 2009

KHUTBAH FATIMAH Az ZAHRA BINTA ROSULULLAH SAW

Rasulullah SAW bersabda: “wanita penghuni surga yang paling utama ada empat; Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, Asiyah bintu Muzahim –istri Fir’aun-, dan Maryam bintu Imran”[1].

Rasulullah SAW bersabda: “sebaik-baik wanita alam semesta ada empat; Maryam bintu Imran, Asiyah bintu Muzahim, Khadijah bintu Khuwailid, dan Fatimah bintu Muhammad”[2].

Rasulullah SAW bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang membuatnya marah niscaya telah membuatku marah” “Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang mengganggunya niscaya telah menggangguku” “sesungguhnya Allah murka dengan murka Fatimah dan rela dengan rela Fatimah”[3]



Puja bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan
Terima kasih pada Allah atas apa yang telah Dia ilhamkan (nikmat batin)
Puji bagi Allah atas apa yang telah Dia sodorkan;
Berupa nikmat-nikmat umum yang Dia mulai (sebelum ada hak sedikitpun pada manusia)
Berupa anugerah yang berlimpah dan sempurna
Dan berupa semua pemberian yang berturut-turut
Begitu banyak nikmat Allah sehingga tidak mungkin untuk menghitungnya
Tidak mungkin untuk menjangkau batasannya
Selamanya tidak akan mungkin untuk diketahui semua
Dia mengajak mereka untuk minta tambah dengan cara bersyukur, karena sambungan yang terdapat dalam nikmatNya
Mengharuskan makhluknya untuk memuja dengan limpahan nikmatNya
Sebagaimana Dia juga mengajak mereka pada hal-hal yang serupa


Aku bersaksi bahwa “tiada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tak bersetara”, sebuah kalimat yang kembali pada ketulusan (ikhlas)
Kalimat yang capaiannya telah ditanamkan di hati setiap orang
Kalimat yang rasionalisasinya tercerahkan dalam pikiran
Allah yang mata tak mampu melihatnya
Lidah tak sanggup menyifatiNya
Pikiran tak dapat menjangkau bagaimana Dia
Dia ciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu sebelumnya
Dia ciptakan tanpa menyontek contoh yang lain
Dia adakan dengan kekuasaanNya dan Dia ciptakan dengan kehendakNya
Tanpa Dia butuh pada penciptaan itu
Tanpa ada faidah dari penggambaran itu
Tiada lain hanya merupakan pembuktian atas hikmahNya, peringatan atas ketaatan padaNya, penjelasan kuasaNya, penyembahan hambaNya, dan penegasan ajakanNya
Kemudian Dia tetapkan pahala bagi ketaatan padaNya
Dia tentukan siksa bagi kemaksiatan padaNya
Untuk mencegah hamba-hambaNya dari murka
Dan mendorong mereka ke arah surgaNya


Aku bersaksi bahwa ayahku (Muhammad) adalah hamba dan utusanNya
Dia telah memilihnya sebelum menciptakan
Dia telah memilihnya sebelum mengutus
Di saat manusia masih tersembunyi dalam gaib
Di saat manusia masih terhalang oleh tabir yang menyeramkan
Di saat manusia masih sarat dengan ketiadaan
Atas dasar ilmu Allah terhadap tempat kembalinya segala sesuatu
Atas dasar pengetahuanNya terhadap segala hal yang akan terjadi
Atas dasar makrifatNya terhadap situasi dan kondisi serta maslahat segala hal yang Dia tentukan
Allah mengutus Muhammad untuk melengkapkan urusanNya
Sebagai tekad untuk menetapkan hukumNya
Sebagai penerapan takdir-takdirNya yang pasti


Kemudian Dia saksikan penduduk bumi berpecah belah dalam agama mereka
Mereka yang tunduk beribadah pada api
Mereka yang menyembah arca
Mereka yang mengingkari Allah di saat mereka mengetahuiNya


Maka Allah menerangi kegelapan itu dengan Muhammad SAW
Dia lapangkan hati dari problema
Dia jelaskan mata dari kesamaran


Dan Rasulullah bangkit di tengah ummat manusia dengan membawa hidayah
Menyelamatkan mereka dari kesesatan
Menyembuhkan mereka dari kebutaan (mata dan hati)
Menunjukkan mereka pada agama yang tegak
Mengajak mereka pada jalan yang lurus


Kemudian Allah menariknya karena cinta dan keinginan serta pilihan
Maka beliau tenang dan terlepas dari lelahnya kehidupan di dunia
Sungguh beliau dikelilingi oleh para malaikat yang suci
Diridloi oleh Allah Yang Maha Pengampun
Dekat di sisi Maha Raja Yang Perkasa
Shalawat dan salam serta rahmat dan barakat Allah semoga senantiasa tercurahkan pada ayahku
Muhammad nabiNya, manusia kepercayaanNya untuk menerima wahyu, manusia pilihanNya, manusia yang terbaik di antara ciptaanNya dan manusia yang diridloiNya.


Kemudian beliau mengalihkan perhatian pada hadirin seraya berkata:


Kalian, wahai hamba-hamba Allah, adalah maksud dari perintah dan laranganNya
Kalian adalah pemikul agama dan wahyuNya
Kalian adalah orang yang dipercaya Allah untuk menjaga agamaNya
Kalian adalah orang yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah ini pada ummat yang akan datang
Seorang pemimpin kebenaran ada di tengah kalian
Dia telah mengambil janji kalian atas kewajiban
Dia tinggalkan sesuatu pada kalian


Kitab Allah yang berbicara
Qur’an yang jujur dan benar
Cahaya yang berkilauan
Sinar yang terang benderang
Bukti-buktinya jelas dan rahasia-rahasianya terungkap
Lahirnya nampak
Membuat senang pendukungnya
Membawa pengikutnya menuju keridoan Allah
Mendorong pendengarnya ke arah keselamatan
Dengannya, dapat diperoleh hujjah-hujjah Allah yang bersinar, dan
Kewajiban-kewajibanNya yang sudah dijelaskan oleh Al-quran
Larangan-laranganNya yang telah diperingatkan
Bukti-buktiNya yang terang
Dalil-dalilNya yang cukup
Keutamaan-keutamaan yang dianjurkan
Keringanan-keringanan yang diberikan
Dan syariat yang diharuskan


Maka Allah menjadikan iman sebagai penyuci kalian dari kesyirikan
Shalat sebagai pembersih kalian dari kesombongan
Zakat sebagai penjernih diri dan pengembangan rejeki
Puasa sebagai pendalam ketulusan
Haji sebagai penguat agama
Keadilan sebagai pengatur kalbu
Ketaatan pada kami [Ahlulbait as] sebagai sistem untuk bangsa
Kepemimpinan kami sebagai jaminan aman dari pecah belah
Jihad dan perjuangan sebagai kehormatan Islam
Kesabaran sebagai penopang untuk meraih pahala
Amar makruf sebagai maslahat umum
Bakti pada kedua orang tua sebagai penghindar murka
Silaturahmi sebagai penambah jumlah
Qisas sebagai penjaga darah


Kesetiaan pada nadzar sebagai peluas ampunan
Jujur dalam tolok ukur dan timbangan sebagai perubah kikir
Larangan minum arak sebagai pembasmi noda
Larangan menuduh zina sebagai tabir penghalang kutukan
Larangan mencuri sebagai penjamin kesucian
Larangan syirik sebagai ketulusan padaNya dalam pengaturan
Maka bertaqwalah kalian pada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya, dan jangan kalian mati kecuali dalam kaadan muslim
Taatilah perintah dan laranganNya
Karena sesungguhnya hanya hamba-hamba Allah yang alim yang takut padaNya.


Wahai ummat manusia!

Ketahuilah bahwa aku adalah Fatimah!
Ayahku adalah Muhammad
Kukatakan untuk pertama dan terakhir kalinya
Aku tidak berkata salah dan tidak bertindak lalim
Sungguh-sungguh telah datang pada kalian utusan Allah dari jenis kalian sendiri, resah atas kesulitan yang menimpa kalian dan bersikeras untuk memberi petunjuk pada kalian serta lembut dan sayang terhadap orang-orang yang beriman[4]
Apabila kalian hendak menisbatkan asal usulnya maka kalian akan mendapatkan bahwa beliau adalah ayahku dan bukan ayah dari wanita kalian
Beliau adalah saudara misananku dan bukan saudara dari pria kalian
Maka sebaik-baik penisbatan adalah orang yang dinisbatkan padanya


Rasulullah menyampaikan misinya dengan menegaskan peringatan
Keluar dari jalur orang-orang musyrik
Menebas belikat mereka
Membungkam mulut mereka
Mengajak pada jalan Tuhannya dengan hikmah dan nasihat yang baik
Memecahkan arca dan menumbangkan kekafiran
Sampai akhirnya mereka kalah dan mundur
Malam terbelah oleh pagi (kedzaliman terpendam oleh Islam)
Terbitlah kebenaran yang murni


Pemimpin agama berbicara tentang agama dan perkara muslimin
Kicauan setan membisu
Pendukung kemunafikan runtuh
Jalinan kafir dan perpecahan terurai
Kalian berucap tulus
Dan orang-orang yang bercahaya putih karena lapar (puasa)
Di saat kalian sebelumnya berada di mulut api neraka
[kalian adalah] orang yang meneguk segala minuman walau bukan miliknya
Orang serakah yang tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menuruti kesrakusannya
Bara api orang yang tergesa-gesa


[kalian adalah] orang yang terinjak-injak di bawah kaki para penguasa
Kalian minum genangan air yang bercampur kotoran binatang
Kalian makan dengan wadah kulit yang tak disamak dan daun-daunan
Kalian adalah orang-orang yang hina dan terusir
Kalian selalu takut dirampok oleh orang-orang yang berada di sekitar


Maka Allah menyelamatkan kalian melalui ayahku Muhammad SAW
Setelah ini dan itu
Setelah ditimpa oleh kebengisan kaum pria dan keganasan arab serta kedurhakaan Ahlulkitab (orang yahudi dan nasrani)
Setiap kali mereka menyulut api peperangan maka Allah memadamkannya
Setiap kali tanduk setan tumbuh (setiap kali setan beraksi untuk merusak) atau kesyirikan membuka lebar mulutnya maka beliau SAW mengirimkan saudaranya (Ali) sampai ke anak lidahnya (ke pusatnya untuk membasmi setan dan kesyirikan)
Maka dia (Ali) tidak akan pernah kembali sampai berhasil menginjak telinga setan dan kesyirikan dengan lekuk telapak kakinya


Dan memadamkan lidah api mereka dengan pedangnya
Dia (Ali) banting tulang dalam dzat Allah
Dia berusaha keras dalam perintah Allah
Dia dekat dengan Rasulullah
Dia tuan di tengah waliAllah
Dia naik dan menasihati, bekerja keras dan bersungguh-sungguh
Di saat kalian hanya bersenang-senang dalam kehidupan nyaman, nikmat dan aman


Kalian senantiasa menantikan akibat buruk terjadi pada kita
Menunggu datangnya berita
Dan mengundurkan diri dari peperangan


Dan ketika Allah memilihkan rumah para nabi bagi Rasulullah (ketika wafat)
Memilihkan tempat kembali orang-orang pilihanNya untuk beliau
Tampaklah pada diri kalian duri dan dendam kemunafikan
Jubah agama telah lusuh di mata kalian


Orang yang dulunya diam, sesat dan bodoh sekarang angkat suara
Orang yang dulunya tak dikenal sekarang jadi terkenal
Pejantan orang-orang sesat mengeraskan geramannya
Dan berjalan dengan congkak di halaman-halaman kalian
Setan mengeluarkan kepala dari tempat persembunyiannya
Seraya memanggil kalian


Dia melihat kalian menjawab panggilannya
Dan mendapatkan kalian sepenuhnya pasrah menerima tipu daya
Kemudian dia perintahkan kalian untuk bangkit dan dengan ringannya kalian bergegas bangkit
Dia kobarkan api kemarahan pada diri kalian dan seketika itu juga kalian marah
Dengan demikian, maka kalian memberi tanda pada unta yang bukan milik kalian (yang penting bagi kalian adalah taat pada setan, apapun saja yang dia perintahkan)
Kalian turunkan unta itu bukan pada bagian air milik kalian
Semua ini terjadi padahal masa lalu baru kemarin berlalu
Kepedihan itu masih dalam (karena wafatnya Rasul)


Luka itu masih belum sembuh
Rasulullah masih belum dikuburkan
Bergegas dan berebut –kekuasaan-, mengakunya khawatir terjadi fitnah
Sadarlah; mereka terjerumus dalam fitnah dan sesungguhnya neraka jahannam mencakup semua orang kafir


Jauh sekali dari kalian
Ada apa dengan kalian?
Kemanakah setan memalingkan kalian?
Padahal kitab Allah berada di pundak kalian
Hal-hal di dalamnya jelas
Hukum-hukumnya berkilau
Rambu-rambunya bersinar
Larangan-larangannya terang
Perintah-perintahnya tampak
Sungguh kalian telah membelakangi Al-quran
Apakah kalian ingin membencinya?!
Atau kalian hendak menghakimi dengan selainnya?!
Sesuatu yang lain itu adalah sejelek-jelek pengganti bagi orang dzalim
Dan baranga siapa yang mengikuti agama selain Islam maka hal itu tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat tergolong orang-orang yang merugi


Tak lama kemudian, setelah perlawanan mejadi tenang dan pengaturan menjadi gampang
Seketika itu juga kalian mulai mengeluarkan api dan menggerakkan baranya (menebar fitnah di mana-mana)
Kalian iakan panggilan setan yang menyesatkan
Ajakannya untuk memadamkan cahaya agama yang terang benderang
Meredakan sunnah nabi yang jernih
Pura-pura minum buih padahal sesungguhnya kalian ingin minum susu secara sembunyi-sembunyi (berdalih khawatir terjadi fitnah padahal sesungguhnya kalian serakah terhadap kekuasaan dan membuat fitnah)
Kalian ganggu keluarga dan keturunan Rasulullah secara terselubung dan tersembunyi
Dan kita sabar atas gangguan kalian seperti orang yang menahan sakitnya tubuh yang dicincang dengan pisau besar
Seperti orang yang manahan luka tusukan mata tombak ke dalam perut


Dan sekarang kalian mengaku bahwa tidak ada warisan bagi kami (keluarga Nabi)
Apakah kalian menginginkan hukum jahiliah?
Dan siapakah yang lebih baik dari pada Allah dalam menghukumi bagi orang-orang yang yakin?!
Apa kalian tidak tau? Sungguh jelas bagi kalian seperti matahari di siang bolong bahwa aku adalah puteri Rasulullah


Wahai orang-orang muslim!


Apa mereka memaksa dan mengalahkanku untuk mendapatkan hak waris dari ayahku?


Wahai Abu Bakar putera Abu Quhafah!
Apakah disebutkan dalam kitab Allah bahwa kamu mewarisi ayahmu sementara aku tidak mewarisi ayahku?
Sungguh-sungguh kamu telah membawa kemunkaran yang besar
Apakah kalian sengaja meninggalkan kitab Allah dan kalian buang dia ke belakang?
Di saat Allah berfirman: “dan suliman mewarisi dawud”[5]
Allah juga berfirman –ketika menceritakan kisah zakariya-: “berilah dari sisiMu wali –dan penerus- bagiku, yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga ya’qub”[6]
Allah berfirman: “famili dan keluarga, sebagian dari mereka lebih layak dari sebagian yang lain dalam ketentuan Allah”[7]
Allah berfirman: “Allah mewasiatkan pada kalian tentang anak-anak kalian, bagi anak laki dua kali lipat saham anak perempuan”[8]
Allah berfirman: “apabila seseorang dari kalian mati dan meninggalkan barang berharga, maka hendaknya dia mewasiatkan pada kedua orang tua dan keluarganya secara baik, ini adalah hak orang-orang yang bertaqwa”[9]


Kalian mengaku tiada saham bagiku!
Tiada warisan dari ayahku!
Apakah Allah mengistimewakan ayat tertentu bagi kalian dan mengeluarkan ayahku darinya?
Atau kalian katakan bahwa dua orang pengikut dua agama tidak saling mewarisi?
Bukankah aku dan ayahku pemeluk satu agama?
Atau kalian merasa lebih pintar dari ayah dan misananku (Ali) dalam hal khusus dan umumnya Al-quran?


Maka ambillah –wahai Abu Bakar- tanah Fadak (tanah warisan Rasul untuk Fatimah) yang siap ini, seperti unta yang berpelana dan bertali kekang
Dia akan menemuimu di hari mahsyar dan kebangkitan
Maka sebaik-baik hakim adalah Allah
Sebaik-baik pemimpin adalah Muhammad
Sebai-baik saat adalah hari kiamat
Dan pada hari kebangkitan, orang-orang yang batil akan merugi
Tidak lagi bermanfaat apabila kalian menyesal di sana
Dan bagi setiap berita besar tempatnya masing-masing, niscaya kalian akan mengetahui siapa yang akan didatangi siksa yang menghinakannya dan yang pasti mengalami siksa abadi


Kemudian beliau melemparkan pandangannya ke arah Anshar seraya berkata:


Wahai kelompok yang mulia
Wahai penolong-penolong agama
Wahai penjaga-penjaga Islam
Apa sikap acuh tak acuh dan lemah –kalian- dalam hakku ini?!
Apa sikap ngantuk kalian terhadap hakku yang telah dirampas secara lalim?
Bukankah Rasulullah SAW, ayahku, bersabda: seseorang terjaga dalam keturunannya (kehormatan dan kemuliaan seseorang dinilai apabila kehormatan, kemuliaan dan hak-hak keturunannya juga terjaga)
Betapa cepatnya kalian berubah, memusuhi keluarga Nabi
Betapa tergesa-gesanya kalian untuk mengerahkan segala sesuatu melawan keluarga Nabi
Di saat kalian punya kemampuan untuk menolong usahaku
Di saat kalian punya kekuatan untuk membantuku dalam mengambil kembali hak-hakku yang mereka rampas
Apakah ingin kalian katakan: Muhammad telah mati (maka agamanya, kehormatan dan kemuliaanya juga mati)


Sungguh kepergian beliau adalah perkara yang agung
Luka itu semakin terkoyak
Rekah itu semakin luas
Belahan itu semakin lebar
Bumi menjadi gelap karena kepergiannya
Bintang mengalami gerhana karena musibahnya
Harapan telah terputus
Gunung jadi tunduk dan khusyu’
Batas-batas –keluarga Nabi- dilampaui
Kehormatan dia setelah mati dilecehkan
Maka demi Allah itu adalah bencana terbesar dan musibah teragung
Bencana yang tiada taranya
Malapetaka yang tidak akan datang tandingannya dekat2 ini


Kitab Allah SWT mengumumkan kepergian beliau di halaman-halaman rumah kalian
Di pagi dan sore hari kalian
Dengan suara pelan dan teriakan
Secara tilawah dan nada-nada qira’at
Kematian itu juga telah menimpa para nabi dan rasul sebelumnya
Dan merupakan hukum yang pasti dan ketentuan yang tak terelakkan
“Dan Muhammad tidak lain adalah utusan Allah, telah lalu rasul-rasul sebelumya, apakah ketika dia mati atau terbunuh maka kalian berbalik ke belakang, dan barang siapa yang berbalik ke belakangnya niscaya dia tidak membahayakan Allah sedikitpun, dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur”[10]


Jauh sekali bani Qilah!
Apakah aku tertindas dan tercegah dari warisan ayahku?
Di saat kalian masih kulihat dan kudengar
Kalian masih kumpul bersama
Ajakanku sampai ke telinga kalian
Berita ini sampai ke perasaan dan pengetahuan kalian
Di saat kalian memiliki jumlah yang cukup, potensi, sarana dan kekuatan
Kalian dilengkapi dengan senjata dan perisai
Panggilanku telah sampai pada kalian tapi kalian tidak menjawabnya
Teriakanku telah mendatangi kalian tapi tetap kalian tidak membantu


Padahal kalian dikenal denga jihad dan perjuangan di jalan Allah
Dikenal dengan kebaikan dan amal yang saleh
Pilihan Nabi untuk mendukung misi
Pilihan Nabi untuk meraih kemenangan
Kalian telah berperang melawan arab
Kalian pikul beban dan kesulitan
Kalian serang ummat-ummat lain
Kalian hadapi para pemberani


Dulu kita tidak meninggalkan kalian dan kalian tidak meninggalkan kita
Kita perintahkan dan kalian patuh
Sehingga urusan Islam menjadi teratur bersama kita
Sehari-hari air susu mengalir dengan deras (bayak kebaikan yang diperoleh)
Puncak kesyirikan jadi tunduk
Gejolak dusta menjadi tenang
Api kekafiran telah padam
Ajakan fitnah dan kerusuhan telah terbenam
Sistem agama telah teratur


Lalu kenapa kalian bingung setelah kejelasan
Kenapa kalian rahasiakan setelah terus terang
Kenapa kalian mundur setelah maju
Kenapa kalian syirik setelah beriman
“Apa kalian tidak berperang melawan kaum yang mengingkari janjinya dan bertekad untuk mengusir Rasulullah?! Padahal mereka dulu yang emulai peperangan ini; apakah kalian takut pada mereka?! Padahal Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kalian adalah orang-orang yang beriman”[11]


Ingatlah: aku tau, kalian lebih memilih kesenangan dan kehidupan yang nyaman
Kalian jauhkan orang yang lebih berhak untuk melapangkan dan menyempitkan (memerintah dan mengatur negara)
Kalian menyendiri dengan kesenangan
Kalian terhindar dari himpitan dan meraup kekayaan
Maka kalian lepeh apa yang kalian pelihara
Kalian muntahkan apa yang kalian minum dengan mudah (berpaling dari agama dan penolakan terhadap iman)


Dan apabila kalian dan semua penduduk bumi kafir maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Terpuja ingatlah: aku katakan semua ini di saat aku tau persis kehinaan yang telah bercampur dengan diri kalian dan pengkhianatan yang melekat di hati kalian


Namun itu adalah ungkapan rahasia hati
Semburan amarah
Kelemahan tombak (tidak sabar lagi)
Gelisah yang keluar dari dada
Persembahan hujjah dan bukti
Maka ambillah khilafah dan tunggangilah pemerintahan yang luka punggungnya dan tipis sepatunya
Khilafah yang senantiasa hina
Ditandai dengan murka Allah dan cela selamanya
Disambung dengan neraka Allah yang menyala dan tau isi hati (membakar jiwa dan raga)
Semua yang kalian perbuat tampak di mata Allah
Dan orang-orang dzalim akan mengetahui ke mana mereka kembali
Dan aku adalah puteri orang yang memperingatkan kalian pada siksa yang dahsyat
Maka bertindaklah dan sesungguhnya kami adalah penindak, nantilah dan sesungguhnya kami adalah penanti


Abu Bakar menjawab:

Wahai puteri Rasulullah!
Sungguh ayahmu dulu adalah orang yang lemah lembut dan mulia terhadap mukminin, belas kasih dan sayang pada mereka
Siksa yang pedih dan hukuman yang besar bagi orang kafir
Kalau kita ingin menisbatkannya maka kita dapatkan dia sebagai ayahmu dan bukan ayah dari wanita yang lain

Saudara suamimu dan bukan saudara pria yang lain
Beliau utamakan saudaranya dari pada sahabat yang lain
Dia bantu Rasulullah di setiap perkara yang besar
Hanya orang bahagia yang mencintai kalian dan hanya orang sengsara yang membenci kalian
Kalian adalah keluarga Rasulullah yang bagus
Orang-orang pilihan yang mulia
Kalian adalah petunjuk kebaikan
Kalian adalah jalan menuju surga
Dan kamu (Fatimah); wahai wanita yang terbaik dan puteri sebaik-baik Nabi
Jujur dalam bertutur

Pendahulu dalam kesempurnaan akal
Tidak tersingkir dari haknya
Tidak tercegah dari kejujurannya
Demi Allah aku tidak menentang pendapat Rasulullah !!!
Aku tidak bertindak kecuali dengan ijin dia
Dan sesungguhnya seorang penghulu tidak akan membohongi pengikutnya
Aku bersaksi pada Allah dan cukup bagiku Dia sebagai saksi
Sungguh aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“kita para nabi tidak mewariskan emas dan perak, rumah dan parabotnya, melainkan kita mewariskan kitab dan hikmah, ilmu dan kenabian. Makanan! apa saja yang tersisa dari kami maka itu hak pemerintah setelah kita, dan dialah yang berhak memutuskan di sana”

Apa yang kamu minta telah kita letakkan bersama kelompok kuda dan senjata yang digunakan muslimin untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan bertempur melawan orang-orang yang menentang dan jahat


Keputusan itu atas dasar kesepakatan muslimin!!
Aku tidak sendiri dalam hal itu
Aku tidak sewenang-wenang hanya sesuai dengan pendapatku
Inilah kondisi dan hartaku
Semuanya untukmu dan di hadapanmu
Tidak disingkirkan darimu
Tidak disimpan tanpa dirimu
Kamu adalah tuan ummat ayahmu
Pohon bagus untuk keturunanmu
Seluruh keutamaan dirimu tidak bisa diimgkari
Cabang dan pokokmu tidak bisa dibawahi
Keputusanmu senantiasa berlaku dalam apa yang kumiliki
Lalu apakah kamu melihat diriku menentang ayahmu dalam hal ini?

Maka beliau, Fatimah Zahra, berkata:

Maha suci Allah
Tidak pernah Rasulullah SAW berpaling dari kitab Allah
Tidak pernah beliau menentang hukumnya
Melainkan beliau senantiasa mengikuti jejaknya
Menapaki surat-suratnya

Apakah kalian bersepakat untuk berkhianat sekaligus membuat alasan yang dusta (kebohongan yang dinisbatkan pada Rasulullah)
Perlakuan kalian terhadap Rasulullah SAW setelah wafatnya sama dengan kezaliman besar yang beliau alami pada masa hidupnya
Ini adalah kitab Allah sebagai hakim yang adil, berbicara dan memutuskan
Kitab Allah mensinyalir: “yang mewarisiku dan mewarisi keluarga ya’qub”. “sulaiman mewarisi dawud”

Maka sesungguhnya Allah SWT telah menjelaskan jatah-jatah yang Dia bagikan
Dia telah atur ketentuan dan warisan
Dia terangkan bagian lelaki dan wanita; keterangan yang cukup untuk menyingkirkan penyakit orang-orang pengikut kebatilan
Keterangan yang menghilangkan anggapan serta kesamaran orang-orang yang lalu dan akan datang
Tidaklah demikian yang sesungguhnya, melainkan perkara (kekuasaan) silau dan indah di mata kalian, maka seyogyanya kita bersabar dengan kesabaran yang indah, dan Allah Yang dimintai pertolongan atas apa yang kalian diskripsikan.


Maka Abu Bakar berkata:

Allah benar dan Rasulnya pun benar
Puteri Rasul juga benar
Kamu adalah tambang hikmah
Tempat hidayah dan rahmat
Tonggak agama
Mata hujjah dan bukti
Aku tidak asing dari kebenaran katamu
Aku tidak mengingkari maksudmu
Mereka orang-orang islam, antara aku dan kamu
Mereka serahkan pangkat dan kedudukan khilafah ini padaku
Maka dengan kesepakatan dari mereka aku mengambil keputusan untuk menyita –tanah Fadak-
Bukan angkuh dan sewenag-wenang
Dan juga bukan monopoli
Dan mereka adalah saksi akan hal itu

Maka sayidah Fatimah Zahra sa mengarah pada masyarakat seraya berkata:

Wahai ummat manusia yang bergegas ke arah ucapan batil
Yang diam dan rela atas tindakan keji dan merugi
Apakah kalian tidak merenungkan Al-quran atau ada gembok di hati kalian
Tidak demikian yang sesungguhnya, melainkan perbuatan buruk kalian telah mengalahkan hati kalian
Maka dia telah merampas telinga dan mata kalian
Sejelek-jeleknya penakwilan adalah penakwilan kalian
Seburuk-buruknya ganti adalah kebatilan yang kalian jadikan sebagai ganti dari kebenaran
Sungguh dan sungguh demi Allah kalian akan menerima beban yang berat dan akibat yang dahsyat (di hari kiamat nanti)


Ketika tabir telah terungkap bagi kalian
Dan tampak bagi kalian sesuatu yang di belakangnya adalah kesulitan
Dan tampak bagi kalian, dari Tuhan kalian, sesuatu yang tidak kalian sangka-sangka sebelumnya, dan di sanalah orang-orang pengikut kebatilan merugi.


Rujukan:

[1] . Ibn Hanbal, Ahmad, Musnad jilid 2 hal 293. dll.
[2] . Ibid.
[3] . Shahih Bukhari, jilid 5 hal 21 dan 29. hadis-hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Bukhari, Ibnu Majah, Sajestani, Tirmidzi, Nasa’I, Abul Faraj, Nisaburi, Abu Na’im, Baihaqi, Khwarazmi, Ibnu Asakir, Baghawi, Ibnu Jauzi, Ibnu Atsir, Ibnu Abil Hadid, Suyuthi, Ibnu Hajar, Baladziri dll. Dengan berbagai ibarat yang berkandungan serupa.
[4] . QS. Taubah 128.
[5] . QS. Naml ayat 16.
[6] . QS. Maryam ayat 5 dan 6.
[7] . QS. Anfal ayat 75.
[8] . QS. Nisa’ ayat 11.
[9] . QS. Baqarah ayat 180.
[10] . QS. Imran 144.
[11] . QS. Taubah 13.


Refrensi:

1. Murtadho, Sayid Alamul Huda, 436H, as-Syafi, dengan sanad dari Urwah dari Aisyah.
2. Ibnu Thawush, Sayid, at-Thara’if, dengan sanad dari Zuhri dari Aisyah.
3. Shaduq, Syaikh, dengan sanad dari Zainab bint Ali. Dia meriwayatkannya juga dari Ahmad bin Muhamma bin Jabir dari Zainab int Ali. Begitu pula dari Zaid bin Ali dari Zainab bint Ali dari Fathimah Zahra sa.
4. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, meriwayatkan dari kitab Saqifah karya Ahmad bin Abdul Aziz Jauhari dengan empat sanad.
5. Arbili, Ali bin Isa, Kasyful Ghummah, meriwayatkan dari kitab Saqifah karya Jauhari.
6. Masudi, Murjud Dzahab.
7. Thabarsi, Ihtijaj.
8. Ahmad bin Abi Thahir, Balaghatun Nisa. dll

Disadur dari http://alamsiberku.tripod.com/

Minggu, 07 September 2008

Pesan Terakhir Rasulullah saww di Ghadir Khum

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala Puji bagi Allah yang tinggi dalam keesaan­-Nya, dekat dalam ketunggalan-Nya, perkasa dalam kekuatan-Nya, agung dalam keberadaan pembantu­-pembantu utama-Nya, Maha Tahu akan segala sesuatu, sementara Dia tetap ditempat-Nya; menundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan­Nya dan (kekuatan) bukti-bukti-Nya.
Dialah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujian bagi-Nya tak pernah terhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang membentang. Penguasa bumi dan langit, Maha Kudus dan Maha Suci. Tuhan para Malaikat dan al-Ruh yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat pemurah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Maha Derma.
Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan­-pandangan itu rnelihat-Nya, Dialah Maha Pemurah, Maha Tabah dan Maha Kasih.
(Dialah) Penabur rahmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat yang memberkati seluruh makhluk, tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak segera menimpakan azab kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Dia tahu setiap rahasia yang tersembunyi dan segala apa yang tersimpan dalam hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya. dan tiada misteri yang mengelirukan-Nya.
Dia Maha Tahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang rnenyerupai-Nya.
Dialah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut sesuatu. Dialah yang Maha Abadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, Maha Suci Tuhan dan dilihat oleh pandangan mata, dan Dialah yang meliputi pandangan mata. Dia yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui.
Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya, tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia secara lahir dan batin, melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung itu sendri.
Aku bersaksi bahwa Dia Allah yang kudus-Nya memenuhi masa, cahaya-Nya meliputi alpha dan omega, perintah-Nya terlaksana tanpa musyawarah, takdir-Nya ditentukan tanpa bersama-Nya mitra.
Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dan ciptaan yang dibentuk-Nya, tiada bantuan dari setiap apapun, tiada kerja keras dan tiada tipuan atas apa yang diciptakan-Nya, Dia ciptakan makhluk-Nya dan jadilah ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua.
Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Rapi dan Maha lndah dalam mencipta, Maha Adil yang tidak menganiaya, dan Maha Pemurah yang kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.


Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk. Dialah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta planet-planet senta bintang gemintang di langit, pengendali matahari dan bulan, di mana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang setelah malam saling berganti. Dialah penghancur para tiran yang membangkang dan pemusnah setan-setan yang terkutuk yang menentang.
Tiada bersama-Nya lawan dan kawan, Dia Maha Esa, Tunggal. Satu dan tempat bertumpu segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Dialah Tuhan yang Satu, Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak ia akan terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui segala sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat orang menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.
Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, di tangan-Nya semua kebaikan dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Malam dimasukkan-Nya ke dalam siang, dan siang ke malam. Tiada Tuhan melainkan Dia. Maha Perkasa dan Maha Pengampun, Pengijabah do’a, Pemberi yang tulus, Maha Tahu secara rinci segala hembusan nafas, Tuhan seluruh makhluk, baik dan golongan jin maupun golongan nas (manusia). Tiada perkara sulit di hadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak rnencemaskan­Nya. Dialah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung penghuni alam semesta, dan Yang paling berhak untuk disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat sempit dan lapang. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab­Nya dan Rasul-rasul-Nya. Aku mendengar perintah­Nya, patuh dan segera bangkit melaksanakan segala yang diridhai-Nya, menerima total ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa­Nya. Sebab Dialah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari makar-Nya atau khawatir dan kezaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku akan kehambaanku dihadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ketuhanan-Nya (untuk diriku). Kini akan aku sampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menolak­Nya dariku, (sebesar apapun kekuatannya). Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku, apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyarnpaikan seluruh risalah (pesan)-Nya; dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku (dan upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah Allah Yang Maha Pemurah sebagal penjamin. Firman-Nya untukku:


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
“Wahai Rasul (Muhammad), sainpaikan apa yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan s eluruh risalah (pesan) -Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia-manusia lain.” (Q.S. 5:67)

Wahai umat manusia! aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada anda semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril (as) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintah aku--berdasarkan perintah Tuhanku— untuk berdiri di tempat keramaian ini dan menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib (as) adalah saudaraku, Washi-ku (penerima wasiatku) penggantiku dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada nabi selepasku. Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu:

“Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku” (Q.S. 5:55)
Ali bin Abi Thalib (as) adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalamkeadaan ruku’ seperti yang dimaksud oleh Allah (SWT) itu.
(Pada mulanya) Aku mernohon kepada Malaikat Jibnil agar dia mernintakan kepada Allah untuk membehaskan aku dan menyampaikan penintah mi kepada kamu, karena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan betapa banyaknya orang yang munafik, penebar fitnah dan mengolok-­olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah karakter-karakter mereka dalam Al-Qur’an, “... kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga. dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan, padahal di sisi Allah ia adalah besar. “ (24:15)

Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menyebutku sebagal udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya sehingga untuk itu Allah ‘Azza wa jalla menurunkan firman-Nya:
Di antara mereka (orang-orang munafìk) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” (Q.S. 9:61)

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan, atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan kutunjukkan. Namun —demi Allah— aku telah dan terus akan bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dan gangguan manusia” (Q.S. 5:67)

Ketahuilah —wahai umat manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, Ajam (Non Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar. putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (Ali) adalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang rnengikutinya akan memperoleh rahmat, dan yang mempercayainya adalah orang beriman. Allah telah mengampuni orang yang mendengarnya dan yang mematuhinya.
Wahai umat manusia ini adalah kali terakhir aku berdiri di tempat keramaian ini.
Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu, karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu. Berikutnya adalah Muhammad (saw), yang sekarang tengah berdiri dan berbicara dihadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku, Ali adalah Wali dan imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari di mana kamu akan berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya.
Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dialah yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian aku mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.
Wahai umat manusia! seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah ilmu-ilmu yang rinci.
Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung.
Wahai umat manusia! Jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur dan enggan untuk menerima kepemimpinannya. Karena dia akan mem bawa kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta menghancurkan kebatilan dan mencegahnya, tanpa dia peduli pada celaan para pencela dalam menjalankan perintah Tuhannya. Dialah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dialah orang yang mengorbankan jiwanya demi Rasul-Nya; dialah satu-satunya dari kaum lelaki yang pertama kali menyembah Allah bersama Rasul utusan-Nya.
Wahai umat manusia! Utamakanlah dia. Karena Allah telah mengutamakannya.
Terimalah dia, karena Allah yang telah mengangkatnya.
Wahai umat manusia! Dialah Imam yang ditunjuk oleh Allah. Allah tidak akan mengampuni orang­-orang yang ingkar terhadap wilayah dan kepemimpinannya dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang
pedih, maha dahsyat dan selama-lamanya. Awas! jangan kalian mengingkarinya karena itu akan menghantar kalian ke dalam api neraka, yang bara apinya terdiri dan manusia dan batu-batuan yang telah disiapkan bagi orang-orang kafir.
Wahai umat manusia! Demi Allah, para nabi dan rasul terdahulu telah memberitakan kepada kaumnya akan kedatanganku. Aku adalah akhir dan penutup seluruh nabi dan rasul. Aku adalah bukti Allah (hujjah) bagi segenap makhluk-Nya. di langit dan di bumi.
Barangsiapa ragu-ragu tentang itu, maka dia adalah orang kafir sekafirnya orang jahiliyah terdahulu. Barangsiapa meragukan sebagian ucapanku, itu berarti meragukan keseluruhannya. Orang yang ragu-ragu seperti itu baginya adalah api neraka.
Wahai umat manusia! Anugerah Allah kepadaku akan keutamaan-keutamaan ini adalah karena kasih sayang-Nya dan ihsan-Nya yang agung kepadaku. Tiada tuhan melainkan Dia. BagiNya pujian dariku pada setiap keadaan sepanjang masa dan selama­-lamanya.
Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Karena kamilah kemudian Allah menurunkan rezeki-Nya (kepada kalian) dan (karena kami jugalah maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Terkutuk dan sungguh terkutuk; dimurkai dan sungguh dimurkailah mereka yang menolak ucapanku ini dan merasa tidak berkenan di dalam hatinya. Ketahuilah bahwa Jibril telah memberitahuku tentang itu berdasarkan firman Allah (SWT) kepadanya:
“Barangsiapa memusuhi Ali dan tidak mewila’nya (menjadikannya sebagai wali) niscaya dia akan memperoleh laknat-Ku dan murka-Ku “. Karena itu hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan disiapkannya untuk hari esok. Takutlah kamu kepada Allah, dan hindarilah dari menentang-Nya. karena akibatnya kalian akan tergelincir, padahal sebelumnya kalian berada pada jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Tahu atas apa yang kamu kerjakan.
Wahai umat manusia! Sungguh Alilah yang dimaksudkan sebagai hak Allah (yang harus dipenuhi haknya) seperti yang disebutkan dalarn kitab suci­Nya. Allah berfirman: (kelak di hari kiamat) setiap jiwa berkata : “amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan hak-hak Allah...” (Q.S. 39:56)

Wahai umat manusia! Tadabburlah (renungkanlah) kitab suci AlQuran, pahamilah ayat-ayatnya. perhatikanlah ayat-ayat muhkamatnya dan jangan kalian ikuti (secara lahiriah) makna ayat-ayat Mutasyabihat-nya. Demi Allah, tidak ada yang bisa menjelaskan batas-batasnya atau menerangkan tafsirnya kepada kalian melainkan orang yang kupegang tangannya ini; yang kunaikkan dia ke sisiku ini dan yang kuangkat lengannya ini. Kini aku umumkan kepada kalian, barangsiapa menjadikan aku sebagai maula atau pemimpin, maka inilah Ali sehagai maula dan pemimpinnya. Dia—Ali bin .Abii Thalib— adalah saudaraku dan washiku. Perintah untuk mengangkatnya sebagai maula inl turun dari Allah ‘azza wa jalla kepadaku.
Wahai umat manusia! Sungguh Ali dan putra-putraku yang suci adalah peninggalan beratku yang besar. Masing-masing mereka akan memberitakan satu sama lain dan saling membenarkan. Keduanya (AlQuran dan keluarga Nabi) tidak akan pernah berpisah sehingga mereka menjumpaiku di telaga (syurga) kelak. Mereka (para Imam, penerj.) ini adalah orang-orang kepercayaan Allah yang ada di antara makhlukNya dan para pemimpin bijaksana yang ada di bumiNya. Sungguh telah kutunaikan (perintah ini). Sungguh telah kusampaikan; sungguh telah kuperdengarkan; sungguh telah kujelaskan.
Ketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla telah memfirmankannya dan aku telah mengucapkannya dari sisiNya. Ketahuilah, sungguh tidak ada orang yang disebut sebagai Amir al Mukminin (Pemimpin orang-orang yang beriman) melainkan saudaraku ini. Siapapun tidak diperkenankan untuk menyandang gelar dan status ini melainkan dia semata-mata.
(Kemudian Nabi saw mengambil lengan Ali yang sejak tadi berdiri bersama Nabi di atas mimbar dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu dekatnya sehingga kakinya sejajar persis dengan lutut Rasulullah saw).
Nabi kemudian berkata:
Wahai umat manusia! Ini adalah Ali, saudaraku dan washiku, pemelihara ilmuku, khilafahku bagi umatku dan wakilku dalam menafsirkan kitab Allah ‘azza wa jalla.
Dialah penyeru kepada Allah, melaksanakan segala apa yang diridhoiNya, memerangi musuh-musuhNya, penganjur pada ketaatan, pencegah maksiat, khalifah Nabi utusan Allah, Amir al Mukminin, Imam yang memberi petunjuk, yang memerangi—berdasarkan perintah Allah—kelompok Nakitsin, Qosithin dan Mariqin.
Kini kusampaikan pada kalian—berdasarkan perintah Tuhanku, sesuatu yang tidak dapat kuubah. Aku nyatakan, “Allahumma, ya Allah berilah dukungan dan wila’Mu kepada orang yang mewila’ Ali, musuhilah orang yang memusuhinya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang mengabaikan haknya. Ya Allah, Engkaulah yang telah menurunkan firmanMu kepadaku bahwa imamah setelahku adalah milik Ali kekasihMu, di saat kujelaskan perkara itu(kepada mereka) dan kuangkat dia (sebagai pemimpin) yang dengannya Engkau sempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka dan Engkau sempurnakan untuk mereka nikmatMu, dan Engkau ridhoi bagi mereka Islam sebagai agamanya. Engkau telah berfirman : “Barangsiapa menjadikan selain Islam sebagai agamanya, niscaya ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. 3:89). Ya Allah, kumohon kesaksianMu dan cukup bagiku Engkau sebagai saksi—bahwa aku telah sampaikan (perintahMu ini).
Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama kalian ini dengan imamah Ali. Barangsiapa tidak mengikutinya atau tidak mengikuti pengganti-penggantinya—putra-putraku yang datang dari slbinya yang tetap ada sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah swt, niscaya amal-amal baik mereka akan gugur dan mereka akan kekal dalam api neraka, tanpa keringanan dan tanpa harapan (untuk bebas darinya).
Wahai umat manusia! Inilah Ali, seorang yang paling banyak membelaku di antara kalian, yang paling berhak atasku, yang paling dekat denganku dan yang paling mulia di sisiku. Allah swt dan aku ridho padanya. Tiada ayat tentang ridho Allah yang turun melainkan ia berkaitan dengan Ali, tiada ayat di mana Allah berbicara dengan orang-orang beriman melainkan Dia memulainya dengan Ali; tiada ayat pujian dalam AlQuran yang turun melainkan berkaitan dengan Ali; tiada kesaksian akan surga (seperti) dalam ayat “hal ata’alal insani” melainkan Alilah yang dimaksudkannya; ayat tersebut tidak turun untuk selain Ali.
Wahai umat manusia! Ali adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasul utusan Allah. Dialah orang bertakwa, suci, petunjuk jalan Allah dan memperoleh petunjuk dariNya. (Aku) Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi, dan (Ali) washi kalian adalah sebaik-baik washi, sementara putra-putranya juga adalah sebaik-baik washi.
Wahai umat manusia! Sungguh zuriat setiap nabi berasal dari tulang sulbinya, tetapi zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbi Ali.
Wahai umat manusia! Sungguh karena dengkilah maka Iblis mengeluarkan Adam dari surga. Oleh karena itu hindarilah dari mendengki Ali, karena ia akan menyebabkan amal-amal kalian gugur dan kaki-kaki kalian tergelincir. Ingat bahwa Nabi Adam telah diturunkan (oleh Allah) ke bumi ini hanya lantaran satu kesalahan, padahal ia adalah manusia pilihanNya. Apalagi kalian, manusia biasa, di mana di antara kalian ada juga musuh-musuh Allah. (Wahai umat manusia!) Hanya orang-orang yang durhaka sajalah yang membenci Ali, sementara orang-orang yang takwa akan mendukungnya dan menjadikannya sebagai wali dan orang-orang yang beriman yang tulus akan beriman kepadanya.
Demi Allah! Berkenaan dengan Alilah surat al­‘Asr berikut turun “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam keaduan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh...”
Wahai umat manusia! Biarlah Allah sebagai saksiku bahwa aku telah sampaikan tugas risalah ini. Sungguh tugas Rasul hanya menyampaikan firman Tuhan semata-mata.
Wahai umat manusia! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan (sampai) kamu mati melainkan kamu benar-benar sebagai orang muslim.
Wahai umat manusia! Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya, sebelum kami mengubah mukamu lalu kami putarkan ke belakang (yakni mati).
Wahai umat manusia! Telah mengalir dalam jiwaku ini cahaya dari sisi Allah. Kemudian (ia mengalir juga) ke dalam (tanah) Ali, dan berikutnya ke dalam zuriat keturunannya sehinggalah ke (lmam) al-Qoim al-Mahdi, yang akan mengembalikan hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya sernula. Sebab Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan kamu sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang, pengkhianat, pendosa dan penzalim dari seluruh makhluk jagad raya ini.
Wahai umat manusia! Kuingatkan kalian bahwa aku ini adalah Rasul utusan Allah. Sebelumku telah ada rasul-rasul yang lain. Apakah kalian akan berpaling dariku (dan tidak bersabar) setelah aku mati atau terbunuh? Sungguh barangsiapa berpaling, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun; dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur. Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan mereka yang menyandang sifat sabar dan syukur di atas adalah Ali dan putra-putranya yang datang dari sulbinya.
Wahai umat manusia! Janganlah kalian mengungkit-ungkit dan membusungkan dada di hadapan Allah akan keislaman kalian, sebab itu akan mendatangkan murka Allah dan azab-Nya. Sungguh Dia benar-benar mengawasi kamu.
Wahai umat manusia! Akan datang setelahku para pemimpin yang menyeru kepada api neraka, dan mereka tidak akan memperoleh pembelaan kelak pada hari kiamat.
Wahai urnat manusia! Sungguh Allah (SWT) dan aku tidak bertanggung jawab atas nasib mereka dan tidak akan sekali-kali melindungi mereka.
Wahai umat manusia! Sungguh mereka dan pembela-pembelanya serta para pengikutnya akan berada di tingkat terendah dari api neraka, sebuah tempat yang paling hina bagi orang-orang yang takabur (akan kebenaran). Sungguh merekalah Ashabus Shahifah. Dengan demikian, hendaklah kalian melihat buku amalnya masing-masing meskipun yang benar-benar peduli terhadapnya hanya segelintir orang saja.
Wahai umat manusia! Sungguh, aku serahkan masalah imamah (umat ini) dan pewarisan (nya) dalam zuriat keturunanku sampai hari kiamat. Sungguh telah kusampaikan kepada kalian kewajiban yang diperintahkan kepadaku ini, menjadi hujjah atau bukti Tuhan bagi setiap orang, baik yang hadir ataupun yang gaib (tidak hadir), yang menyaksikan perhelatan ini ataupun yang tidak menyaksikannya, yang sudah lahir atau yang belum lahir. Hendaklah mereka yang hadir menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir, si ayah menyampaikannya kepada anaknya, demikian seterusnya sampai hari kiamat, meskipun—tidak lama berselang——sejumlah orang akan merampasnya dan menjadikannya sebagai dinasti kerajaan. Ketahuilah bahwa laknat Allah pasti ditimpakan kepada perampas itu. Di saat itu “Kami akan perhatikan sepenuhnya terhadap kamu wahai makhluk manusia dan jin..., di mana (akan) dilepaskan nyala api dun cairan tembaga (kepadu kalian) sedemikian sehingga kamu tidak dapat ,menyelamatkan diri darinya (Q.S. 55:31,35)
Wahai umat manusia! Sungguh Allah ‘ala wa jalla tidak akan membiarkan kamu berada dalam keadaan seperti ini sampai dia akan membedakan (untuk kamu) mana yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin) dan Allah sekali-kali tidak memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.
Wahai umat manusia! Tiada desa yang selamat dan murka Allah dan penduduknya dibinasakan kecuali karena pendustaan mereka terhadap kebenaran. Demikianlah Tuhan yang membinasakan penduduk sebuah tempat lantaran perlakuan mereka yang zalim, seperti yang disebut-sebut oleh Allah (SWT). lnilah Ali, imam kalian dan wali kalian.
Dialah orang di mana seluruh janji atau ancaman Allah turun karenanya; dan Allah pasti menepati seluruh janjiNya.
Wahai umat manusia! Telah banyak orang-orang terdahulu sebelum kamu jatuh sesat. Allahlah yang membinasakan orang-orang terdahulu itu sebagaimana Dia jugalah yang akan membinasakan orang-orang yang akan datang kemudian. Allah berfirman : “Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang terdahulu, lalu Kami sertakan (juga) mereka yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa, dan celakalah pada hari itu bagi orang-orang pendusta.” (Q.S. 77:16-19).
Wahai umat manusia! Allah telah menurunkan perintahNya dan laranganNya untukku; dan aku (kemudian) menyampaikan perintah dan larangan itu kepada Ali. Dengan demikian dia mengetahui perintah dan larangan (Allah) dari Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Perkasa. Oleh karena itu hendaklah kalian mendengar perintahnya niscaya kalian akan selamat; patuhilah dia niscaya kalian akan memperoleh petunjuk; ikutilah apa yang dilarangnya, niscaya kalian akan memperoleh bimbingan; bersikaplah seperti yang diinginkannya, dan jangan kalian berpisah dari jalannya lantaran banyaknya jalan lain.
Wahai umat manusia! Aku adalah Shiratal Mustaqim (jalan lurus) yang kalian diperintahkan untuk mengikutinya. Setelahku adalah Ali, kemudian dilanjutkan oleh putra-putraku yang datang dari sulbinya. Mereka adalah para imam yang membimbing kepada kebenaran dan dengan kebenaran itulah mereka menjalankan keadilan.

(Kemudian Nabi membaca surat AlFatihah sampai akhir, dan melanjutkan khotbahnya berikut).
Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah berkenaan denganku dan mereka (Ali dan putra-putranya). Ia meliputi seluruh mereka dan khusus untuk mereka. Merekalah kekasih-kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut dan sedih. Sungguh mereka yang berada dalam partai Allahlah yang menang. Dan sungguh, musuh-musuh Ali-lah sebagai kelompok pendurhaka, munafik, licik, pelampau batas, dan saudara-saudara setan yang saling membisikkan perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Sungguh, para kekasih dan pendukung Ali dan putra-putranya adalah mereka yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya berikut : “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya...” (Q.S. 58:22). Sungguh, mereka juga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah swt : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. 6:82). Sungguh, mereka juaga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah berikut : Yang masuk ke dalam surga dengan penuh keamanan, dan disambut oleh para malaikat dengan salam sambil berkata, kalian adalah orang-orang suci, maka masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya.
Sungguh, para kekasih dan pendukung mereka adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla berikut, mereka masuk ke dalam surga tanpa hisab...
Dan sungguh, musuh-musuh mereka akan masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang mendengar suara neraka yang mengerikan; (suara) api yang menggelegak dan yang dikelilingi oleh algojo-algojonya. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah sebagai umat yang saling mengutuk saudaranya ketika masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang seperti difirmankan oleh Allah berikut : “Setiap kali dilemparkan ke dalam api neraka satu kumpulan, maka penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan. Mereka menjawab : “benar ada”, telah datang kepada kami seorang yang memberikan peringatan, namun kami telah mendustakannya dan kami katakan : “Allah tidak menurunkan suatu apapun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (Q.S. 67:8,9).
Sungguh para kekasih mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhannya secara ghaib; bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar.
Wahai umat manusia! Sungguh jauh perbedaan antara neraka dan surga. Musuh kami adalah orang-orang yang dicela dan dikutuk oleh Allah; dan kekasih kami adalah orang-orang yang dipuji dan dicintai oleh Allah.
Wahai umat manusia! Sungguh, aku adalah (Nabi) yang memberi peringatan, sementara Ali adalah pembimbing.
Wahai umat manusia! Sungguh aku adalah Nabi dan Ali adalah washi (penerima wasiat)ku. Sungguh, penutup para imam adalah dari kami, (bergelar) alQoim alMahdi, yang akan menegakkan keadilan dan memperoleh petunjuk Allah swt.
Sungguh, dia adalah pembela agama. Sungguh, dialah yang akan membalas kezaliman orang-orag yang zalim. Sungguh dialah yang akan membebaskan benteng-benteng yang kuat dan akan menghancurkannya. Sungguh, dialahpenghancur kelompok-kelompok kemusyrikan. Sungguh dialah yang akan membalas darah-darah kekasih Allah yang tumpah. Sungguh, dialah pembela agama Allah. Sungguh dialah penegak air lautan (makrifat dan hakikat) yang dalam.
Sungguh, dialah yang menunjukkan keutamaan orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebodohan orang-orang yang bodoh. Sungguh dialah manusia pilihan Allah dan kekasihNya. Sungguh, dialah pewaris semua ilmu dan menguasai segala ilmu.
Sungguh, dia adalah pembawa berita dari Tuhan ‘azza wa jalla, dan yang memberi tahu tentang perkara iman. Sungguh, dia adalah manusia yang senantiasa memperoleh petunjuk (Allah) dan selalu dijayakanNya.
Sungguh, dialah manusia yang diserahkan oleh Allah urusan makhluk ciptaanNya. Sungguh dia adalah manusia yang kedatangannya telah diberitakan oleh para imam sebelumnya. Sungguh, dia adalah hujjah Allah terakhir yang masih hidup, di mana tiada hujjah lain setelahnya; tiada kebenaran melainkan bersamanya dan tiada cahaya melainkan ada di sisinya.
Sungguh, dia adalah wali Allah yang ada di bumiNya, penguasa yang haq dan benar di sekitar makhluk ciptaanNya, dan manusia kepercayaanNya (pada martabat) zahir dan batinNya.
Wahai umat manusia! Aku telah jelaskan kepada kalian sejelas-jelasnya (tentang perkara ini), dan inilah Ali yang akan menjelaskan kepada kalian setelahku.
Usai khotbahku ini, aku menyeru kalian untuk pertama-tama mengulurkan tangannya kepadaku, kemudian kepada Ali sebagai tanda bai’at dan pernyataan setia.
Ketahuilah bahwa aku telah memberikan bai’atku kepada Allah, dan Ali telah memberikan bai’atnya kepadaku. Kini berdasarkan perintah dari Allah ‘azza wa jalla, aku mengajak kalian untuk membai’at. Barangsiapa mengingkari bai’atnya, berarti dia telah membinasakan dirinya sendiri.
Wahai umat manusia! Sungguh haji, shafa, marwah dan umroh adalah bagian dari syi’ar Allah. “Barangsiapa menunaikan ibadah haji atau umrah ke rumah Allah, maka hendaklah ia mengerjakan sai’ di antara keduanya.” (Q.S. 2:158).
Wahai umat manusia! Tunaikan ibadah haji ke rumah Allah. Tiada suatu keluarga yang datang ke rumah Allah ini melainkan ia akan dicukupkan olehNya; dan tiada suatu keluarga yang berpaling meninggalkannya melainkan ia akan mengalami kefakiran.
Wahai umat manusia! Tiada seorang yang mukmin yang wukuf atau berdiri di tempat-tempat mulia tersebut melainkan Allah akan ampunkan seluruh dosa-dosanya yang lalu maupun yang baru. Demikianlah sehingga apabila ibadah hajinya selesai maka (perhitungan) amalnya dimulai lagi dari awal.
Wahai umat manusia! Para jamaah haji memperoleh bantuan dari Allah, dan ongkos perjalanan mereka terhitung sebagai simpanan (untuk hari akhirat kelak). Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan ganjaranNya bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
Wahai umat manusia! Tunaikanlah ibadah haji ke rumah Allah dengan pemahaman yang sempurna akan ajaran-ajaran agama ini. Jangan kalian meninggalkan tempat-tempat mulia itu melainkan setelah kalian benar-benar taubat dan menyesali dosa-dosa kalian.
Wahai umat manusia! Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, seperti diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla atas kalian. Apabila dikarenakan lamanya waktu berlalu kemudian kalian menjadi jahil atau lupa, maka Alilah—sebagai pemimpin kalian yang telah ditunjuk oleh Allah setelahku, yang akan menjelaskan (seluruh hukum-hukum itu) kepada kalian. Dia adalah orang yang dijadikan oleh Allah sebagai penggantiku; menjawab pertanyaan-­pertanyaan kalian dan menjelaskan kepada kalian segala apa yang kalian tidak ketahui.
Sungguh, perkara-perkara yang halal dan yang haram adalah lebih banyak dan yang dapat kuhitung satu per satu dan kuberitahukan (kepada kalian). Untuk itu secara singkat kukatakan bahwa apa yang kuperintahkan pasti adalah perkara yang halal, dan yang kularang pasti adalah sesuatu yang haram. Kemudian aku diperintahkan untuk mengambil bai’at dan janji setia dari kalian agar menerima segala apa yang kubawa dari Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan Ali selaku Amirul Mukminin dan para Imam yang datang setelahnya. Mereka adalah putra-putraku dan putra-putra Ali; para imam yang menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, yang di antaranya adalah al-Mahdi, yang akan memerintah (dunia ini) dengan kebenaran.
Wahai umat manusia! setiap perkara halal yang kuajarkan kepada kalian, atau perkara haram yang kucegah kalian darinya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kuubah atau kucabut. Karena itu hendaknya kalian mengingatnya, memeliharanya dan saling mengajarkannya. Jangan sekali-kali kalian mengubahnya atau menggantinya.
Kini kuulangi lagi perkataanku: hendaklah kalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Ketahuilah bahwa pangkal amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah penerimaan kalian akan kata-kataku sebagai sesuatu yang final, di mana kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir serta memerintahkan mereka untuk menerimanya dan mencegah mereka dari menentangnya. Sebab ini adalah perintah dan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan dariku. (Ketahuilah) bahwa upaya melakukan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar tidak akan berarti melainkan sepengetahuan atau bersama Imam yang maksum (terpelihara dari dosa).
Wahai umat manusia kitab suci Alqur’an telah menyatakan bahwa para imam setelah Ali adalah putra-putranya. Aku juga telah mengatakan kepada kalian bahwa Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam kitab Nya: “(bahwa Ibrahim) telah menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya.. “, (Q.S. 43:28). Aku juga berkata: “Selagi kalian berpegang teguh pada keduanya: (Alqur ‘an dan itrah keluanga Nabi), niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.
Wahai umat manusia Bentakwalah, sekali lagi bertakwalah kalian kepada Allah, lngatlah akan dahsyatnya hari kiamat, sepenti yang ditafsirkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh gempa hari kiamat adalah sesuatu yang maha dahsyat “lngatlah saat-saat mati, hisab, timbangan dan pengadilan Allah terhadap kalian;(demikian juga) pahala dan dosa. Barangsiapa melakukan amal kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya, sementara mereka yang melakukan perbuatan buruk maka sedikitpun dia tidak akan memperoleh syurga.
Wahai umat nianusia! Jumlah kalian sedemikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan bai’atnya kepadaku satu persatu. Namun demikian, Allah ‘Azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dan lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai Amirul Mukminin, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa Zuriat keturunanku adalah berasal dan sulbinya (Ali).
Katakan secara serentak: “Kami telah mendengar, akan patuh, rela dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkaitan dengan kepemimpinan Ali dan kepemimpinan putra-putranya yang datang dari sulbinya. Untuk itu kami membai’atmu dengan hati, jiwa, lisan dan tangan kami. Berdasarkan itu pula kami hidup, mati dan dibangkitkan tanpa kami mengubah, mengganti, ragu mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami mematuhi Allah dan mematuhi engkau (nabi, serta mematuhi Ali sebagai Amirul Mukminin). Demikian juga putra-putranya, para imam yang kau katakan berasal dan zuriat keturunanmu, yang datang dari sulbi Ali, Hasan dan Husain.”
Tentang Hasan dan Husain ini, telah kukenalkan kepada kalian kedudukan mereka di sisiku, tempat mereka dihadapanku dan martabat mereka di haribaan Tuhanku yang Maha Mulia dan Maha Agung. Semua itu telah kusampaikan kepada kalian.
Sungguh, mereka berdua adalah penghulu pemuda-pemuda surga, imam-imam pasca ayahnya, Ali; dan aku adalah ayah mereka sebelum Ali menjadi ayahnya.
Katakan secara serentak:”Kami mematuhi perintah Allah, mematuhimu, Ali, Hasan dan Husain serta para imam setelahnya. Mereka adalah orang­-orang yang kau ikat hati, jiwa dan lisan kami untuk berjanji setia, berikrar dan berbai’at lewat tangan Amirul Mukminin (Ali). Sebagian dari kami membai’atnya dengan tangannya dan sebagian yang lain dengan pernyataan lisannya. Sungguh kami tidak ingin berpaling darinya selama-lamanya. Kami jadikan Allah sebagai saksi dan cukuplah Allah sebagai saksi. Demikian juga engkau (Nabi), semua orang yang patuh pada Allah, yang hadir dan yang tidak hadir, para malaikat Allah, tentara-tentara-Nya dan hamba-hamba-Nya, semua adalah saksi-saksi kami. Namun Allah adalah lebih besar dari semua saksi.”
Wahai umat manusia! Apa yang kalian katakan? Sungguh Allah Maha Mendengar setiap suara dan Maha Tahu akan setiap jiwa yang tersembunyi. Barangsiapa memperoleh petunjuk, maka itu adalah keberuntungan bagi dirinya, dan barangsiapa yang tersesat, maka itu adalah kemalangan bagi dirinya. Mereka yang berbai ‘at, sebenarnya telah memberikan bai’atnya kepada Allah; dan tangan Allah berada di atas tangan mereka semua. (48:10)
Wahai umat manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah. Berbai’atlah kalian kepada Ali Amirul Mukminin, kepada Hasan dan Husain serta para Imam (keturunannya). Mereka adalah kalimat Thayyibah yang masih sisa di atas muka bumi ini. Kelak Allah akan membinasakan orang-orang yang mengkhianati mereka, dan merahmati orang-orang yang setia kepada mereka. “Barangsiapa melanggar janji dan bai ‘atnya, niscaya itu akan menimpa dirinya sendiri.” (48:10)
Wahai umat manusia! Ucapkanlah apa yang telah kukatakan kepada kalian. Salamilah Ali selaku Amirul Mukminin. Katakanlah: “(Tuhan kami)! Kami telah dengar dan akan patuh (pada perintah-Mu). Ampunilah kami wahai Tuhan kami. Sungguh kepada-Mu-lah segala sesuatu akan kernbali. Katakanlah:” Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kalian ke jalan ini. Sungguh, kami tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah.” (7:43)
Wahai umat manusia! Sungguh keutamaan Ali bin Abi Thalib (a.s) di sisi Allah dan yang ada dalam Al-Qur’an adalah lebih banyak dari pada yang bisa kusebutkan secara rinci di tempat ini. Siapapun yang meriwayatkannya dan memberitahukannya kepada kalian, maka percayailah dan terimalah ia.
Wahai umat manusia! barangsiapa patuh pada Allah, Rasul-Nya, Ali dan para Imam yang telah kusebutkan itu niscaya dia akan lulus dengan hasil yang amat sangat gemilang.
Wahai umat manusia! Mereka yang segera berangkat memberikan bai’at kepadanya dan menjadikannya sebagai walinya serta menerirnanya sebagai Amirul Mukminin, mereka adalah orang-­orang yang selamat, dan kelak akan berada di dalam syurga yang penuh nikmat.
Wahai umat manusia! Ucapkanlah kata-kata yang menyebabkan Allah rela tenhadap kalian. Seandainya kalian dan semua penghuni bumi ini kufur kepadaNya, niscaya itu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. (3:144)
Yaa Allah! Berikanlah ampunan-Mu kepada orang-orang mukmin, dan murka-Mu kepada orang-­orang kafir. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Kemudian khalayak menyahut seruan Nabi dan berkata:”Kami telah dengar dan akan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati, lidah dan kekuatan kami.”
Mereka kemudian berhimpit-himpitan mengelilingi Nabi dan Ali untuk bersalaman dan mengulurkan tangan bai ‘atnya kepada Rasulullah (SAW). Abubakar, kemudian Umar, lalu Usman. Berikutnya adalah orang-orang Muhajirin, Anshar dan seterusnya sesuai dengan tingkatan martabat mereka sehinggalah tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib dan lsya’ yang di jamak dalam satu waktu, mereka kemudian meneruskan ikrar bai’atnya. Setiap kali orang datang berbai’at, Nabi kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kami di atas seluruh penghuni alam semesta.”
Di sini diperturunkan nama-nama perawi hadits al-Ghadir di kalangan para sahabat tentang perlantikan 'Ali AS sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWW. Sebagaimana sabdanya:'Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka 'Ali adalah maulanya.'

Dan semua nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:
1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37H). Diriwayatkan oleh al-Hawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa', hlm. 14.
3. Abu Zainab bin 'Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi SAWAW di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada 'Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan 'Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.
6. Abu 'Umrah bin 'Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada 'Ali AS di hari Rahbah dengan hadith al-Ghadir.
7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam peperangan al-Siffin tahun 37H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.
8. Abu Rafi' al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja'abi di dalam Nakhbnya. 9
. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah 'Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn 'Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Diriwayatkan oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah, Abu Bakr al-Ja'abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi'i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadith al-Ghadir.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka'ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja'abi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As'ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma' binti Umais al-Khath'amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn 'Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
15. Umm Salmah isteri Nabi SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani' binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn 'Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah SAWAW (w. 93H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma'arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa', hlm. 114.
18. Al-Barra' bin 'Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa', hlm. 114.
20. Abu Sa'id Thabit bin Wadi'ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa'i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn 'Abd al-Birr di dalam al-Isti'ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin 'Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn 'Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut'am bin 'Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin 'Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma' al-Zawa'id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn 'Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi'i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda' bin 'Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-'Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma' al-Zawa'id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa' al-Khaza'i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi'i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin 'Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn 'Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja'abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin 'Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di dalam Hilyah al-Auliya', IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja'abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, him. 307 dan lain-lain.
39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn Umru al-Khaza’i (w. 68 H). Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadith alGhadir.
40. Rifalah bin Abd aI-Mundhir al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
41. Zubair bin al-Awwam al-Qurasyi (w. 36 H). Dlrlwayatkan oieh Syamsuddln al-Jazari ai-Syafi'i di dalam Asna l-Matalib. him.3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Dlriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya. IV. hIm. 368 dan lain-lain.
43. Abu Sa’ld Zaid bin Thabit (w. 45/48 H). Dlriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib him. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,, II. hIm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah. I. him. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin Abdullah al-Ansari. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa’d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 h). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa’d bin Janadah al-’Aufi bapa kepada ‘Atiyyah al-’Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
48. Sad bin Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa’id Sad bin Malik al-Ansari al-Khudri (w. 63/64/65 H). Dlriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa’id bin Zald al-Qurasyi ‘Adwi (w. 50/5 1 H). Dlriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa’id bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari. Dlriwayatkan oleh Ibn‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
52. Abu ‘Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Dlriwayatkan oleh Syamsuddln al-Jazari al-Syafl’i di dalam Asna l-Matallb, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin ‘Umru bin al-Akwa’ al-Aslami (w.74 H). Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya dl dalam Hadith aI-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w. 58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanifal-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, him. 4 dan lain-lain.
56. Abu ‘Abbas Sahal bin Sa’d al-Ansari al-Khazraji al-Sa’idi (w. 91 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi 1-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn ‘Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalain Hadith al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di daiam Hadith al-Wilayah.
59. Talhah bin ‘Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Dirlwayatkan oleh al-Mas’udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim didalam al-Mustadrak,III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amlr bin ‘Umair al-Namiri Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah II, hlm. 255.
61. AmIr bin Laila bin Dhumrah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hln. 92, dan lain-lain.
62. ‘Amir bin Laila a1-Gbaffari Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hIm. 257 dan lain-lain.
63. Abu Tupail ‘Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I. hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. ‘Alsyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, Isteri Nabi Sawaw Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
65. ‘Abbas bin ‘Abdu l-Muttallib bin Hasyim bapa saudara Nabi Sawa. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
66. ‘Abdu r-Ráhman bin ‘Abd Rabb al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ai-Ghabah, III, hIm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, him. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin ‘Abdu r-Rahman bin Auf al-Qurasyi al-Zuhri (w. 31 H), Diriwayatkan oieh Syamsuddin al-Jazari a!Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. ‘Abdu r-Rahman bin Ya’mur al-Daili Diriwayatkan oleb Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
69. ‘Abdullah bin Abi ‘Abd al-Asad al-Makhzumi. Di riwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
70. ‘Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza’ah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
71. ‘Abdullah bin Basyir al-Mazini. Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
72, ‘Abduilah bin Thabit al-Ansari. Dlriwayatkan oleh al-Qadhi didalam Tarikh Ali Muhammad, him. 67.
73. ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib al-Hasyimi (w, 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah
74. ‘Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Dlrlwayatkanoleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. ‘Abdullah bin Rabi’ah. Dlrlwayatkan oleh al-Khawarizmi didalam Maqtalnya. 7
6. ‘Abdullah bin ‘Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. ‘Abdullah bin Ubayy Aufa ‘Alqamah al-Aslami (w. 86/87 H). Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah hal.
78. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab al-’Adawi (w. 72/73 H), Dlrlwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’ld, IX, hIm. 106 dan lain-lain,
79. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazali (w. 32 / 33 H). Dlriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. ‘Abdullah bin Yamil. Dlriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ol-Ghabah,III, him. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II,hlm. 382 dan lain-lain.
81. ‘Uthman bin ‘Affan (w. 35 H). Dirilwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin ‘Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada 'Ali A.S. di Rahbah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-AthIr di dalam Usd al-Ghabah, III, him. 307.
83. Abu Tarif Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, him. 38 dan lain-lain.
84. ‘Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
85. ‘Uqbah bin Amir al-Jauhani. Diriwayatkan al-Qadh di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68.
86. Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib A.S. Diriwayatkan oieh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152: al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa'id, IX. him. 107; al-Suyuti di dalam Tarlkh al-Khulafa’ , him. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhlb al-Tahdhlb, VII, him. 337; Ibn Kathir dl dalain al-Bidayah wa al-Nihayah. V. him. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan ‘Ammar bin Yasir (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalain Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. 'Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Dlrlwayatkan oieh al-Halthami dl dalam MaJma’ al-Zawa’ld, IX, him. 107 dan lain-lain.
89. ‘Umar bin Abi Salmah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H). Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
90. ‘Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari dl dalam al-Rlyadh aI-Nadhirah, H, him. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. VII. Mm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid ‘Umran bin Hasin al-Khuza’i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin ai-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib. him. 4 dan lain-lain.
92. Umru bin al-Humq al-Khuza’i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oieh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
93. ‘Umru bin Syarhabil. Dlrlwayatkan oleh aI-Khawarizmi di dalain Maqtalnya.
94. ‘Umru bin al-Asi Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Slyasah, him. 93 dan lain-lain.
95. ‘Umru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal, VI, him. 154 dan lain-lain.
96. Al.Siddiqah Fatimah binti Nabi Sawaw. Dlriwayatkan oieh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin ‘Abdu l-Muttalib. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hIm. 368; lbn Hajr di dalam al-Isabah, I. him. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Dlrlwayatkan oleh Ibn Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
100. Abu Muhammad Ka’ab bin ‘Ajrah al-Ansari al-Madani (w.5 1 H). Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H) Dirtwayatkan oleh al-Suyutl di dalam Tarikh al -Khulafa’ , hlm. 114 dan lain-lain.
102. A1-Miqdad bin ‘Umry al-Kindi al-Zuhrl (w. 33 H). Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
103. Najiah bin ‘Umru al-Khuzai. Dlrlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V. him. 6; Ibn Hajr di dalain al-Isabah,III, hlm. 542 dan lain-lain.
104. Abu Barzah Fadhiah bin ‘Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
105. Na’mar bin ‘Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di daiam Tarikh Ali Muhammad, him. 68 dan lain-lain.
106. Hasyim al-Mirqal Ibn ‘Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhrl (w. 37 H). Dlrlwayatkan oieh Ibn al-Athir dl dalam Usd al-Ghabah, I, him. 366; Ibn Hajr di dalam aI-Isabah, 1, hlm. 305.
107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyl al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah.
108. Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan oieh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.
109. Abu Juhallah Wahab bin Abdullah al-Suwa’i(w. 74 H). Dinwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqali. Diniwayatkan oleh Ibn al-Athir dl dalam Usd aI-Ghabah. II. him. 233; Ibn Hair di dalam aI-Isabah, Ill, him. 542.

Demikian dikemukakan kepada kalian 110 perawi-perawl hadits al-Ghadir dikalangan para sahabat mengenal perlantikan ‘Ali A.S. sebagai khalifah secara langsungselepas Rasulullah Saww, oleh ularna-ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka. Oleh karena Itu hadits ini sudah mencapai ke peringkat mutawatir. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawl-perawi dari golongan para Tabi’in yang merlwayatkan hadits al-Ghadir serta 360 perawl-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadits tersebut di daiam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengarang buku-buku tentang hadis al-Ghadir. Untuk keterangan lebih lanjut silakan rujuk al-Amini, al-Ghadlr, I. hlm. 14 - 158.